Sabtu, 08 Juli 2017

Belajar Meraih "Kemerdekaan" Ekonomi

Program Belanja Terencana Adalah sebuah Gerakan Moral yang dikembangkan agar semua orang untuk memiliki Kedaulatan dan Martabat Ekonomi.

Berkaca pada filosofi generasi pendahulu kita (orang tua, kakek dan Buyut kita) "Hanya akan membeli barang setelah memiliki cukup uang untuk membeli". Generasi yang memiliki Pola Hidup bersahaja.

Generasi Gemar menyimpan.
Menggunakan Peribahasa "Sedikit demi sedikit lama lama menjadi bukit" baik dalam bentuk uang atau bahan untuk kebutuhan tertentu.

Merasa memiliki harga diri jika mebelanjakan uang atau menggunakan barang milik sendiri. Tidak mudah menerima uluran tangan orang lain. Selama masih memiliki kesempatan, akan tetap berusaha sekuat tenaga agar bisa memiliki barang yang dibutuhkan.

Faktanya saat ini, nilai dan kearifan tersebut  telah banyak mengalami pergeseran.

Ditengah gaya hidup yang makin konsumtif, karena mengejar gengsi dan status sosial ti9nggi, kita kerap memuaskan "keinginan" dengan cara instan.

Memenuhi keinginan dengan cara "Gadai, Jual atau Kredit" sudah seperti sudah melekat dan menjadi bagian dari gaya hidup saat ini.

Menggadaikan barang berharga untuk mendapat uang, menjual benda berharga atau aset penting untuk memenuhi keinginan atau meminjam uang atau barang tertentu agar bisa dipakai dulu dan bayar angsurannya kemudian.

Apakah karena mudahnya mendapat fasilitas pinjaman atau pembiayaan tersebut, lalu semua pemenuhan barang kebutuhan hidup kita akan ditempuh dengan cara "pakai dulu bayar kemudian".

Sadarkah bahwa semakin kita terlena dan merasa nyaman dengan itu, kemerdekaan ekonomi kita semakin terbelenggu. "Sebuah Kenyamanan semu dibalik situasi yang sesungguhnya sangat Tidak Aman".

Apakah kita bisa membebaskan diri secara frontal? Jika bisa, bagus.. Jika belum bisa, lakukan secara perlahan.

Kita lakukan secara bertahap mengurangi ketergantungan kita terhadap  orang lain.

Mulai dengan barang kebutuhan tertentu. Kiya diberi akal dan pikiran untuk merencanakan pemenuhan sampai mengatur cara pemenuhan barang yang kita butuhkan.

Tak perlu merasa gengsi jika memang bisa memenuhi barang dengan cara menyimpan, sekalipun
perlu waktu lama, tetapi kita akan merasa semakin tenang.

Martabat kita sebagai manusia yang merdeka secara ekonomi harus mulai di kembalikan.

Karena kita mampu berdaya secara sosial dan ekonomi.

Suyatno
COO Koperasi Konsumen Tunas Belimbing Indah

Kamis, 22 Juni 2017

Koperasi Konsumen Tunas Belimbing Indah Perkenalkan Program Belanja Terencana

Pemenuhan Kebutuhan barang dalam mempersiapkan hari raya kerap menjadi keluhan warga masyarakat. Terutama di perdesaan. Penurunan daya beli yang diakibatkan gagal panen dan kenaikan harga barang menjadi penyebab utama fakta ini.

Koperasi Konsumen Tunas Belimbing Indah meluncurkan program "Belanja Terencana".
Sebuah program yang mengajak konsumen untuk berani membuat keputusan belanja barang kebutuhan hari raya tahun dengan sejak sekarang. Prinsip dasarnya adalah mengumpulkan sejumlah uang sesuai dengan barang yang dipilih. Bukan Mengumpulkan uang tetapi belum tau untuk membeli apa.

Sabtu, 22 April 2017

Mengenal Koperasi Komsumen


Ada beberapa jenis Koperasi yang sudah dikenal luas oleh masyarakat. Salah satunya adalah Koperasi Konsumen. Koperasi komsumen adalah koperasi yang anggotanya adalah konsumen. Koperasi ini menjalankan kegiatan jual beli menjual barang kebutuhan konsumsi.

Kegiatan utama koperasi ini adalah membeli barang atau jasa.

Sehingga bisa di artikan Koperasi Komsumen berperan menjembatani produsen dengan konsumen yang membutuhkan barang-barang atau jasa. Dengan kata lain koperasi ini bisa juga disebut perantara antara produsen dan konsumen.

Koperasi Konsumen dibentuk dengan tujuan  memberikan keuntungan sebesar-besarnya bagi anggotanya. Usahanya dilakukan dengan cara menyediakan barang atau jasa yang harganya murah namun berkualitas baik. 

Sabtu, 18 Maret 2017

Belajar Membuat Analisa Usaha

Setiap orang yang akan memulai usaha hendaknya membuat perhitungan yang matang tentang usaha yang akan dijalankan. Dari berbagai cerita teman atau kenalan saya, ketika akan mulai usaha perorangan, mulai menghitung dari potensi modal, omset lalu keuntungan.

Perhitungan sederhana dan mudah dilakukan. Istilahnya hitungan "diatas kertas". Bisa dilakukan sambil ngobrol-ngobrol singkat atau menganalisa di permukaan.

Tidak ada yang salah bila usaha dimulai dengan dasar  perhitungan sederhana. Kalau itu bisa membuat semangat untuk memulai usaha (gairah usaha) bisa bangkit. Asal kemudian dibarengi dengan melakukan perhitungan lain.

Tidak juga  harus dimulai dengan perhitungan yang rumit. Tapi beberapa pakar telah melahirkan teori ampuh yang bisa menjadi referensi untuk membuat analisa usaha yang lebih baik.

Sebagai contoh teori 5 P (Product, People, Place, Price, & Promotion). Lima unsur dasar ini bisa dijadikan dasar analisa dan perhitungan  awal untuk memulai usaha.

Saya tidak akan membahas secara detil tentang  5 P. Tulisan ini sekedar sarana saya untun menuangkan refleksi tentang bagaimana memulai usaha.

Banyak usaha berhasil tanpa melakukan analisa yang kompleks. Tapi tidak sedikit pula usaha merugi karena dijalankan tanpa perencanaan dan analisa usaha yang matang.
Salam Wirausaha.