Sabtu, 05 April 2014

Perajin Tungku Pekalongan Lampung Timur


Lampung Timur - Sumber : Tabloid LENSA Wirausaha Edisi #10
Pekalongan - Program konversi minyak tanah ke gas elpiji  yang dilakukan pemerintah dengan memberikan bantuan kompor gas kepada setiap kepala keluarga,  tidak serta merta membuat masyarakat meninggalkan tungku untuk memasak.  Hal ini pula yang membuat semangat kerja Supiyanto Warga Desa Gantiwarno Bedeng 37 Polos Pekalongan Lampung Timur ini untuk tetap membuat tungku yang berbahan dasar abu bekas bakaran sekam sejak 15 tahun silam.
Abu ini yang ia gunakan sebagai bahan baku pembuatan tungku merupakan sisa pembakaran bata.  Lelaki kelahiran tahun 1954 juga terhitung jeli dalam bertindak. Ia bisa menjadikan proses pembakaran batu bata sebagai sarana penghasil abu sekam. Hal jelas akan mendapatkan dua manfaat sekaligus. Manfaat pertama batu batanya matang dan sisa pembakarannya dapat ia manfaatkan untuk membuat tungku.
Menurut suami dari Ngatini membuat tungku abu sekam bukanlah hal yang sulit. Hanya saja dibutuhkan kesabaran dan ketelatenan. Memanfaatkan ilmu yang ia pelajari dari salah satu rekannya di  Way Jepara Lampung Timur, kini  ia rata-rata mampu memproduksi 300 buah tungku setiap bulannya.
Ia membeli sekam dari penggilingan padi langganannya seharga Rp. 8.000,-/karung. Dari tiap karung sekam yang ia gunakan untuk membakar  batu bata, menghasilkan abu sekam dan cukup untuk membuat tiga buah tungku.
Ayah dari 3 anak ini juga menjelaskan secara singkat tentang cara pembuatan tungku abu sekam. Mula-mula Supiyanto membuat adonan dengan bahan abu sekam dicampur tanah liat. Setelah adonan bercampur rata kemudian dilanjutkan dengan proses pencetakan menggunakan pot bunga. Tungku-tungku ini kemudian dikeringkan.  Setelah tungku kondisinya setengah kering baru dilakukan pelubangan.
Proses selanjutnya adalah pemindahan tungku ke tempat pembakaran. Tempat ini berpa bangunan sederhana untuk melindungi proses pembakaran dari guyuran air hujan. Dibutuhkan waktu dua hari dua malam agar tungku dapat matang secara sempurna. Pembakaran tungku inipun menggunakan sekam padi.
Ada berbagai ukuran tungku yang dibuat oleh Supiyanto. Ukuran tungku ini mulai dari 25 hingga 50 cm, ini dibuat sesuai ukuran yang dipesan oleh pelanggannya.  Tungku buatan Supiyanto yang diberi nama Tungku Sinar Abadi dipasarkan tidak hanya di Sekitar Kecamatan Pekalongan saja namun sudah menyebar ke hampir seluruh provinsi Lampung. Bahkan tungku buatannya juga dipesan untuk dipasarkan hingga ke Provinsi Bengkulu,  Riau, Jawa Barat,  hingga Kalimantan.
Tungku buatan Supiyanto ini memiliki beberapa keunggulan. Seperti diakui oleh Ani salah satu pembeli yang kebetulan bertemu dengan kru Lensa. Ia menjelaskan kelebihan tungku abu sekam ini lebih hemat kayu, tidak membuat kotor peralatan masak dan makanan lebih cepat masak.
Dengan hanya mematok harga Rp. 15.000 untuk ukuran tungku 45 cm dan Rp. 25.000 untuk ukuran 50 cm tungku Supiyanto laris dipasaran.  Alhasil ia sudah bisa membangun rumah permanen dan membiayai anak-anaknya sekolah dengan hasil pembuatan tungkunya.(Anna)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar